Iklan : Berbagai motif batik tulis

Selasa, 20 November 2012

To: Webmaster

From:
Berbagai motif batik tulis
bisnisukm@gmail.com

Message:
Selain dikenal dengan sale pisang dan getuk lindrinya, Kabupaten
Grobogan saat ini juga memiliki ikon produk lokal khas lain berupa
batik tulis. Berbagai motif batik tulis diproduksi dengan nuansa yang
berbeda dibandingkan batik tulis pada umumnya. Pada hari Kamis (26/4),
tim liputan bisnisUKM berkesempatan mengunjungi salah satu kelompok
UMKM yang bergerak di bidang pembuatan batik tulis khas Grobogan,
yaitu Kelompok Usaha Bersama (KUB) Flamboyan. KUB Flamboyan menjadi
salah satu kelompok yang selama setahun belakangan ini rutin
memproduksi batik tulis beragam motif.

Latar belakang berdirinya KUB Flamboyan tidak terlepas dari peran
aktif Ibu Nunung Wijayanti (34) yang saat ini menjadi ketua paguyuban.
"Tahun 2010 atas fasilitas dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Kabupaten Grobogan, saya bersama 10 orang rekan mengikuti training dan
studi banding pembuatan batik tulis di Jogja, Solo, dan Pekalongan,
sekembalinya dari sana kami mengajarkan ilmu yang diperoleh kepada
masyarakat sekitar," jelas Ibu Nunung di rumahnya Desa Pulorejo
Purwodadi. Sejak itulah, Ibu Nunung aktif memberikan pelatihan
pembuatan batik tulis ke beberapa kelompok ibu-ibu di wilayah di
Grobogan, terutama di lingkungan tempat tinggalnya.

Proses Produksi Batik Tulis Grobogan 200x146 Batik Tulis Bermotif
Bambu Menjadi Ikon Lokal Grobogan Respon positif dari masyarakat di
sekitar lokasi tempat tinggalnya membuat ibu dua orang putra tersebut
makin bersemangat untuk mengembangkan batik tulis menjadi sebuah
industri. Oleh karena itu, sejak Desember 2010 Ibu Nunung dan
rekan-rekannya sepakat membentuk KUB Flamboyan. "Butuh perjuangan
memang untuk melatih dan meyakinkan mereka (ibu-ibu) untuk menekuni
hal ini, namun lambat laun timbul kesadaran sendiri dari mereka bahwa
batik tulis ini menjanjikan untuk membantu sektor perekonomian
mereka," imbuh Ibu Nunung.

Secara keseluruhan, motif tanaman/ tumbuhan menjadi produk utama batik
tulis KUB Flamboyan. Kedelai, bambu, jati, dan jagung merupakan motif
yang menjadi andalan dan ciri khas produk mereka. "Bahkan untuk
motif bambu atau biasa disebut pring sedapur saat ini mulai
diperkenalkan sebagai ikon produk lokal oleh Pemerintah Daerah
Grobogan," terang Ibu Nunung. Kondisi tersebut tidak lantas membuat
Ibu Nunung berpuas diri, akan tetapi justru menjadi pemicu semangat
baginya untuk senantiasa mempertahankan dan mengembangkan motif-motif
batik baru yang lebih unik.
Info Bisnis

Motif Pring Sedapur 200x138 Batik Tulis Bermotif Bambu Menjadi Ikon
Lokal Grobogan Untuk bahan baku seperti kain batik, malam, canting,
dan zat pewarna, Ibu Nunung membelinya dari Solo. Kain yang digunakan
adalah kain prima/ primisima, sementara untuk pewarnanya menggunakan
pewarna remasol. "Sebulan sekali saya rutin 'kulakan' bahan baku
ke Solo, biasanya belinya saya lebihkan untuk mengantisipasi adanya
lonjakan permintaan," tambahnya. Saat ini, dengan harga
Rp.100.000,00-Rp.150.000,00/ potong (200 cm x 115 cm), Ibu Nunung
mengaku bisa menjual lebih dari 100 potong per bulannya. Hasil
penjualannya dibagi menjadi 40% untuk UMKM, 10% untuk kas KUB, dan 50%
untuk gaji.

Untuk proses produksi, Ibu Nunung tidak mengalami kesulitan karena
masing-masing anggota KUB sudah paham dengan tanggung jawab sesuai
dengan kemampuannya. "Runtutan proses produksinya seperti batik
tulis kebanyakan, yaitu gambar sesuai dengan pola, dicanting,
diwarnai, waterglass, direndam semalaman, nglorot, dijemur, setelah
itu di setrika, dan terakhir finishing," terangnya. Hasil
produksinya kemudian dipasarkan melalui toko-toko, pameran, serta
menggunakan media online.

Kunjungan tim bisnisUKM ke KUB Flamboyan 200x146 Batik Tulis Bermotif
Bambu Menjadi Ikon Lokal Grobogan Selain fokus dalam bidang produksi,
KUB Flamboyan juga menerima paketan magang (training) bagi pihak-pihak
yang tertarik ingin menekuni kreasi batik tulis. "Dengan biaya
Rp.350.000,00/ paket, maka yang bersangkutan bisa mengikuti training
selama satu minggu penuh," tambahnya. Adanya training tersebut
merupakan upaya bagi Ibu Nunung dan rekan-rekannya untuk lebih
memperkenalkan dan mempopulerkan batik tulis sebagai salah satu ikon
lokal khas Kabupaten Grobogan.

Di akhir wawancaranya, Ibu Nunung berharap bisa mempertahankan
eksistensi KUB Flamboyan serta memiliki workshop sendiri. Untuk
mewujudkan hal tersebut, KUB Flamboyan saat ini juga memberlakukan
iuran wajib setiap bulannya untuk menambah modal ketika ada kebutuhan
mendadak.

0 komentar:

Posting Komentar