Iklan : Mengadopsi menu luar dengan citarasa lidah lokal

Selasa, 20 November 2012

To: Webmaster

From:
Mengadopsi menu luar dengan citarasa lidah lokal
bisnisukm@gmail.com

Message:
Mengadopsi menu luar dengan citarasa lidah lokal, ternyata
mendatangkan keuntungan tersendiri bagi pengelola "Dapoer Bistik".
Jika awalnya menu kuliner ini berasal dari budaya masyarakat Belanda
yang dikenal dengan istilah Beef Stuck yang berarti potongan daging
sapi yang dimasak atau ditumis dengan cara tertentu, maka empat
sekawan yang terdiri dari Dani, Widodo, Benu, dan Yusuf ini mencoba
mengubah kuliner Belanda tersebut menjadi masakan lokal dengan cita
rasa khas orang Jawa yang begitu kental dengan tambahan bumbu rempah.

Dirintis sejak bulan Maret tahun 2010 silam, ide empat sekawan ini
akhirnya bisa terwujud setelah mereka berhasil merangkul seorang
investor yakni Nur Huda Ismail yang sekarang ini menjabat sebagai
owner Dapoer Bistik. Mengawali debut pertamanya di Jalan Dr. Wahidin
no. 5 Semarang, sekarang ini usaha Dapoer Bistik telah berkembang
dengan pesat dan berhasil membuka tiga cabang di kota Semarang serta
satu cabang baru di sebelah barat stadion Sriwedari, Solo.

bistik cumi 200x132 Dapoer Bistik, Menawarkan Menu Berkelas Dengan
Harga PasMenyajikan beragam jenis menu serba bistik seperti misalnya
bistik iga bakar, lidah sapi, torpedo sapi, kerang ijo, udang,
cumi-cumi, ayam, bebek, filet kakap, serta menu tambahan lainnya,
tempat makan Semarang ini buka setiap hari dari jam 10.00 sampai 22.00
WIB. "Selain sapi kami sengaja memilih bistik seafood karena
Semarang dekat dengan laut, sehingga kami bisa memanfaatkan hasil laut
tersebut untuk dijadikan bistik," terang Dani yang bertugas
mengelola Dapoer Bistik di Jalan Kusumawardani, Semarang.
Perjalanan Dapoer Bistik

Meskipun awalnya Dani dan ketiga temannya memiliki background
pendidikan dan pengalaman yang berbeda, namun berkat kemurahan hati
sang Owner Dapoer Bistik yang saat itu bersedia membiayai kursus atau
sekolah memasak di kota Jogja, Dani dan temannya mendalami dunia
kuliner dibawah bimbingan koki senior di Hotel Seraton sehingga
akhirnya mereka bisa menyempurnakan keahliannya dalam membuat masakan
bistik. "Kebetulan saya dari STM mekanik otomotif, kemudian diajak
mas Widodo untuk berbisnis kuliner dan mengikuti pelatihan memasak di
kota Jogja," kenangnya.

Dibantu oleh sembilan orang tenaga kerja, setiap bulannya outlet
Dapoer Bistik yang terletak di Jalan Kusumawardani tersebut bisa
mendatangkan omzet sekitar Rp 50 juta dengan keuntungan hampir 100%
dari bahan pokok. Dengan menu andalan bistik iga bakar dan bistik
lidah sapi, Dapoer Bistik mencoba merangkul konsumen menengah ke bawah
dalam mengembangkan usahanya. "Jika ditempat lain bistik Iga sapi
ditawarkan dengan harga Rp 30.000,00 per porsi, kami hanya
memasarkannya dengan harga Rp 16.000,00 dan untuk bistik lidah sapi
hanya dihargai Rp 15.000,00/porsi," ungkap lelaki kelahiran Semarang
14 Februari 1986 tersebut.

pembuatan bistik 200x150 Dapoer Bistik, Menawarkan Menu Berkelas
Dengan Harga PasSelain menawarkan harga yang terjangkau, Dapoer Bistik
selalu meningkatkan pelayanan untuk memenangkan persaingan. "Dalam
menjual makanan atau kuliner, yang perlu kita lakukan adalah
meningkatkan pelayanan, karena pelayanan merupakan pusat kita
berhubungan langsung dengan pelanggan, siapa yang kita tawarkan, siapa
yang kita layani dan siapa yang menggaji kita adalah pelanggan,"
ujar Dani kepada tim bisnisUKM.

Dalam menjalankan bisnisnya, selama ini yang menjadi kendala adalah
proses franchise. "Ketika ada investor yang berminat menjalin
kerjasama, kami masih menundanya karena kita ingin Dapoer Bistik
difranchisekan ketika sudah benar-benar kuat dan menguntungkan mitra
yang menjalin kerjasama," ujarnya.

Kedepannya Dani berharap agar Dapoer Bistik bisa lebih maju lagi dan
menjadi wadah lapangan pekerjaan bagi para pengangguran di sekitar
Semarang. Dani juga berharap agar kuliner bistik dikenal sebagai salah
satu makanan khas Semarang dan menjadi produk makanan instan cepat
saji seperti halnya sarden atau makanan kaleng lainnya yang bisa
langsung dinikmati setelah dipanasi.

0 komentar:

Posting Komentar